Pondok Pesantren Wali Sembilan, Kab Tuban: Pesantren Peduli Lingkungan Hutan
Pelestarian Hutan Jadi Program Penting
PONDOK Pesantren Wali Sembilan berada di dusun Gomang, Desa Laju Lor, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban. Uniknya, salah satu program penting di Ponpes yang di pimpin KH KRMHT Noer Nasroh ini menitikberatkan pada masalah pelestarian lingkungan. Bisa jadi ia merupakan satu diantara tokohpesantren di tanah air, dengan perhatian mempertahankan eksistensi alam hutan. Kami ingin potensi hutan di sekitar kita benar-benar terjaga, sekaligus dilestarikan untuk anak cucu, kata KH KRMHT Noer Nasroh.
Semula pesantren ini, menurut warga sekitar Pondok Gomang, sebutan lain dari Ponpes Wali Sembilan, dikenal sebagai pondok salafiyah tradisional. Santri selain diajarkan ilmu agama dengan sistem sorogan, juga diajarkan kemandirian meniti hidup dengan bertani. Falsafahnya, seorang santri mesti memiliki jiwa mandiri untuk melanjutkan syiar kepada Warga.
Termasuk juga mempertahankan eksistensi alam. Lingkungan bagi kalangan santrimerupakan ciptaan Ilahi yang harus dipertahankan. Sekaligus dilestarikan, karena semuauntuk kepentingan umat.
Karena itu pula, sejak dua tahun terakhir di kompleks pesantren ini, berdiri
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) dengan
jurusan utama Kehutanan dan jurusan lainnya Pertanian dan Perkebunan. SMK Kehutanan, demikian sekolah ini dikenal, merupakan satu-satunya SMK di Indonesia yang spesialis mempelajari masalah kehutanan dan konservasi sumber daya alam.
Pimpinan Ponpes Wali Sembilan yang juga pengelola
SMK Kehutanan, kiai Nasroh demikian ia biasa disapa, menyatakan, SMK yang dikelolanya berstatus negeri yang ditempatkan di Pondok Pesantren. Sekolah tersebut merupakan SMKN 1 Tuban yang penempatannya didekatkan dengan tempat praktek, yakni kawasan hutan.
Untuk sementara ini, siswa masih dompleng di SMPN 3 Singgahan yang ada di sekitar pondok. Kami sudah mempersiapkan lahan bersertifikat seluas 1,3 hektar khusus untuk bangunan gedung SMK ini, kata kiai yang masih kerabat keraton Solo ini.
Data dari SMKN Kehutanan Gomang menyebut, saat ini terdapat dua tingkat kelas di SMK yang dikelola PP Wali Sembilan. Kelas 1 sebanyak 58 siswa dan kelas 2 sebanyak 90 siswa. Mereka dibina oleh 28 guru dari berbagai disiplin ilmu lulusan dari bergelar sarjana S1 dan S2 dari Unibraw (Malang), IPB (Bogor), UGM (Yogyakarta) dan Udayana (Bali).
Selain itu, para pendidik juga berasal dari pejabat Purhutani Unit II Jatim dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Kedua instansi ini sangat tepat mengajar di SMK tersebut,karena terkait dengan jurusan kehutanan yang menjadi jurusan utama sekolah itu.
Sementara lahan untuk praktikum siswa disiapkan di petak 11 wilayah BKPH Mulyoagung, KPH Perhutani Parengan seluas 78 hektar. Lahan tersebut oleh Perhutani memang disiapkan untuk wilayah praktik dan berkarya siswa sekolahtersebut.
“Kami tetap mengembangkan potenssi hutan melalui pendidikan formal tingkat SMK. Sekaligus sejak awal menyiapkan siswa bisa memperoleh pengetahuan agama yang benar-benar cukup,” kata Kiai Nasroh.
Oleh karena itu selepas mengikuti sekolah di SMK, para siswa menjalani aktifitas sebagai santri di PP Wali Sembilan. Mulai belajar kitab dengan sistem mengaji sorogan (sistem mengaji salafiyah yang dibimbing langsung sang kiai) dan diikutkan sekolah Madrasah Diniyah di ponpes tersebut. (teguh budi utomo)
Sumber: Harian Duta Masyarakat