RASA Sumeleh dan gampang memaafkan,terasa kental di pondok Pesantren Wali Sembilan, Gomang, Tuban. Gigih berjuang dengan balutan keprihatinan sarat harmoni, menjadi ikon para santri. Santun dan rela berkorban pun menjadi fenomena keseharian.
Sekalipun usianya relatif muda, Ponpes Wali Sembilan ini menjadi fenomina tersendiri masyarakat di Bumi Ronggolawe. Pesantren berlokasi di tengah hutan jati wilayah KPH Perhutani Parengan ini, terasa lain dibanding pondok salafiyah lainnya.
Laku prihatin yang di ramu akidah Islamiah yang akrab dengan nuansa Nahdliyin,menjadikan nilai lebih dari ponpes di usianya yang sudah 30 tahun lebih.mari kita bersama-sama berdo’a dan berbuat,agar kondisi bangsa ini segera terlapas dari bencana alam.banyak yang musti kita kerjakan,agar warga masyarakat bisa hidup tenang,penuh dengan rasa kedamaian, ungkap KH KRMHT Noer Nasroh,di satu kesempatan.
Banjir,gempa bumi dan berbagai problema alam di indonesia,menurut Kiai Nasroh demikian ia biasa di sapa,patut di sikapi dengan keprihatinan.keprihatinan yang musti di ikuti dengan sikap membantu sesama.lebih dari itu, kita harus mengamalkan sikap pemaafdan saling intropeksi,kata kiai kharismatik bersahaja ini
Dia katakan,korban bencana banjir di Tuban, Bojonegoro dan Lamongan maupun daerah lain,saat ini butuh di rangkul.Mereka adalah saudara kita yang patut di beri perhatian lebih,dalam bentuk apapun.Bencana alam tersebut,bukan mereka yang meminta.Meski begitu,kita harus ikut prihatin dengan berbagai aksi untuk ikut menentramkan batin mereka,ujar Kiai Nasroh.
Bagi pondok Gomang,siapa pun dan dari latar belakang mana pun adalah makhluk citaan Tuhan memiliki derajat sama di mata Alloh.oleh karena iti pula,sikap saling memaafkan dan kedamaian musti di kedepankan.
Demikian juga terhadap lingkungan alam,kita juga harus tetap melestarikannya,demikian pesan kiai yang akrab dengan kalangan petani dan pesanggem ini.
Sumber: Harian Duta Masyarakat