Keputusan untuk tidak bergabung dengan grup sosialisasi UNAIR di Bojonegoro (kota asal SMA saya), ternyata adalah sebuah keputusan yang tepat. Selain karena saya merasa tidak akrab dengan teman-teman dari Bojonegoro, juga kendala jarak dan transportasi, dengan tidak tergabungnya saya di grup ini membuat saya dapat merasakan sesuatu yang baru, yaitu melakukan sosialisasi di daerah saya sendiri, di Tuban (kota asal saya).
Sosialisasi di kota asal saya ini, mempunyai sebuah trik yang berbeda dari yang lain, yaitu dengan cara dibagi tugas di beberapa kawasan. Sebagai contoh, saya berasal dari Kecamatan Jatirogo, maka saya melakukan sosialisasi di kecamatan-kecamatan terdekat saja dengan tempat tinggal saya. Menurut saya, cara ini efektif, karena dalam bersosialisasi, dapat menjangkau tiap pelosok di tiap kecamatan. Tidak hanya bersosialisasi di sekolah yang mudah di jangkau. Tidak hanya bersosialisasi tentang UNAIR saja. Namun kami juga membawa amanah dari Bidik Misi untuk menyampaikan beasiswa ini kepada murid-murid SMA yang kurang mampu secara ekonomi.
Saya teringat kisah saat bersosialisasi di pedalaman Kecamatan Singgahan. Untuk mencapai sekolah ini, jalannya berliku-liku, dan naik turun bukit. Saat sampai di sekolah ini, yaitu
SMK Kehutanan Gomang, Kesan pertama yang muncul adalah pemandangan alam di sekolah ini sangat indah. bebatuan bukit yang tinggi menjulang, serta pepohonan yang lebat, rasanya menyejukkan mata. Dapat dikatakan, sekolah ini ada di tengah hutan. Namun kesan indah itu berubah saat saya tahu, di sekolah ini murid kelas 3 hanya ada sekelas saja.
Saat itu, saya bersama 3 orang teman dari Universitas Airlangga dengan bersemangat masuk ke kelas itu. Karena sekolah tersebut tidak mampu menyediakan proyektor untuk kami menyampaikan materi, maka kami memutuskan untuk menyampaikan sosialisasi dengan cara berdiskusi lesehan dengan murid-murid kelas 3. Kami berbagi pengalaman selama di UNAIR. Berbagi cerita bagaimana kami yang mendapatkan Bidik Misi dapat kuliah dengan bebas biaya, juga bagaimana kami sebagai anak Bidik Misi berani untuk merajut mimpi-mimpi kami meskipun orang-orang berkata, kami miskin.
Murid-murid di sekolah ini mempunyai kendala besar untuk kuliah, diantaranya adalah biaya, dan juga restu orang tua. Hari itu kami sampaikan bagaimana selama ini orang-orang juga memandang sebelah mata kami, juga keluarga kami. Orang-orang di sekitar kami juga banyak yang berkata bahwa kuliah hanya akan menjadi beban untuk orang tua, apalagi merantau kuliah di kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya. Banyak orang berkata bahwa kami hanya memaksakan diri, tidak peduli dengan keadaan orang tua. Namun terlepas dari ini semua, jika kita punya tekad kuat, maka semua ada jalannya. Semua orang punya rejeki masing-masing. Semuanya sudah ada yang mengatur. Tuhan hanya mau melihat sebesar apa usaha kita. Karena Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita.
Perasaan saat selesai sosialisasi dan mendengar keluh kesah murid di sekolah itu membuat mata saya terbuka lebar, bahwa masih banyak yang butuh dukungan untuk berani menggantungkan cita-citanya setinggi langit. Ternyata, masih banyak anak-anak pelosok desa yang takut untuk mulai merajut mimpinya, karena keterbatasan. Perasaan saya merinding, prihatin, menahan haru luar biasa. Semangat saudara-saudaraku. Meskipun kita anak desa, namun kita punya hak yang sama untuk merasakan pendidikan. Kita hanya butuh keberanian yang lebih untuk berani menantang diri kita sendiri. Jika perlu, kita harus melawan arus yang membuat kita tidak berani untuk berubah.