TUBAN - Air terjun Nglirip di desa Mulyoagung Kecamatan Singgahan, Tuban, Jawa Timur, semakin tidak diminati wisatawan, karena air terjun dengan ketinggian 30 meter lebar 28 meter tersebut kalah bersaing dengan obyek wisata lainnya yang ada di Tuban dan Lamongan.
“Apalagi sejak Gua Putri di Desa Nguluhan, Kecamatan Montong di tutup dua tahun lalu, pengunjung air terjun Nglirip semakin sepi, paling banter pada hari libur sekitar 50 pengunjung,” kata Ketua RT 5 RW 6 Desa Mulyoagung Kecamatan Singgahan, Darmani (69) yang mengelola air terjun Nglirip.
Pengunjung wisata air terjun Nglirip selama ini tidak dipungut biaya, hanya dikenai biaya parkir kendaraan roda dua Rp 2000 dan roda empat Rp 3000. “Selama ramadhan nol pengunjung,” katanya.
Tetapi, Darmani mengakui ketika hari raya Idul fitri hingga tujuh hari pengunjung biasanya meningkat hingga mencapai 500 wisatawan domestik.
Menurut Darmani, gua Putri di desa Nguluhan Kecamatan Montong, sekitar 10 km dari Nglirip hanya beberapa tahun dibuka, kemudian ditutup karena dinilai rawan longsor.
Dengan adanya Gua Putri, wisatawan domestik bisa berkunjung di dua tempat, setelah dari Nglirip atau dari Gua Putri begitu sebaliknya.
“Dan sekarang dibukanya tempat wisata di Lamongan dan Tuban, pengunjung di Nglirip sepi,” kata Darmani, pensiunan mantri pengairan Nglirip itu.
Ke depan, Darmani pesimis air terjun Nglirip bisa menarik pengunjung, meskipun kalau lokasinya ditata secara bagus dengan pemandangan yang ada bisa membuat betah pengunjung.
“Sebab dari tahun-ketahun debit air terjun Nglirip menyusut, sejak 1995 pada musim kemarau air terjun sudah tidak mengucur,” katanya.
Dia menjelaskan, sejak dua tahun yang lalu sumber Krawak yang lokasinya di Desa Guo Terus Kecamatan Montong, disedot dengan pompa dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih bagi 2.000 KK warga di Desa Nguluhan, Guo Terus dan Tangulangin Kecamatan montong.
“Sudah hutan lindungnya rusak, airnya disedot warga untuk air minum. Padahal selama ini air Nglirip untuk irigasi pertanian dibawahnya,” katanya`
Dihubungi terpisah Administratur Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Parengan, Kristomo masih optimis air terjun Nglirip yang masuk wilayahnya, potensi sumber mata air Krawak yang jumlahnya 12 buah, lima diantaranya mati masih bisa diselamatkan.
Dari hasil reboisasiyang dilakukan dengan Kodim 0811, LSM, Ponpes Gomang, di lahan seluas 42 ha di kawasan hutan lindung dengan tanaman rimba pada desember 2006 lalu mampu membuahkan hasil.
“Tahun ini ada tanda-tanda sumber Krawak yang mati sudah mengeluarkan air,”katanya.